Jumat, 04 Februari 2011

I Love My Mom, & I Miss My Dad So Much..

Saya rasa itu judul yang pas buat perasaanku terhadap mereka. Ibu saya wanita termulia, terhebat, tertegar, terkuat, dan tersabar seantero jagat. saya yakin semua anak didunia ini menganggap ibunya seperti saya melihat ibu saya. Ibu adalah mahluk istimewa yang diciptakanNya. Begitu lembut namun bertenaga melindungi setiap denyut jantung dan ratusan aliran darah yang pernah diberinya kehidupan hangat dalam rahimnya. Dari awal perjalanan hingga ujung nafas kami, akan terus dijaganya, akan terus di ilhami. Mungkin apabila beliau disuruh memilih nafas terakhirnya apa kehidupan anaknya, saya sangat yakin beliau memilih kehidupan anaknya. Kami putra-putrinya ingin membalas jasanya, namun terkadang kami masih saja silau dengan bualan dunia. Dan lagi lagi beliau lah yang sabar tersenyum dan mengembalikan arah kami. Saya bercita-cita akan menjadi dirinya. Dirinya yang memiliki kekuatan Cinta yang alami. Satu-satunya cinta yang saya percaya nyata ada dimuka bumi.
Sedangkan Ayah. Rasanya pengen seperti anak lain yang bisa terus menerus kagum dengan ayahnya. Rasanya saya ingin bilang, beliau ayah nomer satu yang ada didunia. Bagi saya, beliau tetap yang nomer satu. Demi Tuhan, saya memaafkan segalanya. jika suatu saat nanti beliau kembali, saya akan tetap tersenyum dan memeluknya erat, dan satu hal yang sangat ingin saya lakukan adalah, memanggilnya Ayah. Saya sangat rindu mengucapkan kata-kata itu.
I Love U so Much, Mom..
and I Miss U so Much, Dad..

Masih Buram Ternyata..

Saya masih bingung arah cobaan ini akan berhembus kemana dan berakhir dimana. Saya mulai berdiri untuk menerima dengan terus bersyukur masih diberi peringatan oleh Nya. Tapi semakin saya tersadar semakin berat rasanya. Setiap ada titik terang, disitulah muncul titik hitam yang lebih dominan menutupi permukaan. Saya semakin tidak jelas melihat jalan keluarnya. Saya merunduk titik-titik laknat itu memenuhi pelipis mata saya. Apa sebenarnya ini? Ini ganjaran kami yang kurang bersyukur? Apakah ini ganjaran buat kami yang tidak sering menyebut namaNya, memuji utusanNya? Ataukah ini imbalan buat kami yang tidak tepat waktu mengerjakan perintahmu?
Baiklah, saya menutup mulut untuk mengeluh dan membandingkan amalan saya dengan orang lain. Tapi yang saya tanyakan hanya, kenapa cobaan ini durasinya lama sekali? Mungkin saya butuh petunjuk, hal apa yang masih kurang saya kerjakan. Biar saya mengerti apa yang harus saya perbaiki.
kalau tidak saya dikasih pilihan untuk melakukan penawaran saja. Masalah ini saya yang tanggung sendiri, asalkan orang tua saya, adik-adik saya tidak merasa sakit dengan cobaan yang memutilasi satu per satu tingkat kesadaran kami. Rasanya lebih sakit mengetahui mereka tersakiti, dibanding saya yang hilang kesadaran penuh memikirkannya.
Saya berharap bisa menemukan ujung dari cobaanMu ini, Ya Rabb.
Amin.